Senin, 23 Desember 2013

Keutamaan Cinta Akhirat Dan Zuhud Dalam Kehidupan Dunia

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: Kami mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(( مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌ
“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“.
Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan cinta kepada akhirat dan zuhud dalam kehidupan dunia, serta celaan dan ancaman besar bagi orang yang terlalu berambisi mengejar harta benda duniawi
Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

- Orang yang cinta kepada akhirat akan memperoleh rezki yang telah Allah tetapkan baginya di dunia tanpa bersusah payah, berbeda dengan orang yang terlalu berambisi mengejar dunia, dia akan memperolehnya dengan susah payah lahir dan batin. Salah seorang ulama salaf berkata, “Barangsiapa yang mencintai dunia (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam musibah (penderitaan)“.
- Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan yang tiada berakhir. Hal ini dikarenakan orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) jika telah mendapatkan sebagian dari (harta benda) duniawi maka nafsunya (tidak pernah puas dan) terus berambisi mengejar yang lebih daripada itu, sebagaimana dalam hadits yang shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (berambisi) mencari lembah harta yang ketiga“.
- Kekayaan yang hakiki adalah kekakayaan dalam hati/jiwa. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (dalam) jiwa“.
- Kebahagiaan hidup dan keberuntungan di dunia dan akhirat hanyalah bagi orang yang cinta kepada Allah dan hari akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan kepadanya”.
- Sifat yang mulia ini dimiliki dengan sempurna oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan inilah yang menjadikan mereka lebih utama dan mulia di sisi Allah Ta’ala dibandingkan generasi yang  datang setelah mereka. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kalian lebih banyak berpuasa, (mengerjakan) shalat, dan lebih bersungguh-sungguh (dalam beribadah) dibandingkan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tapi mereka lebih baik (lebih utama di sisi Allah Ta’ala) daripada kalian”. Ada yang bertanya: Kenapa (bisa demikian), wahai Abu Abdirrahman? Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Karena mereka lebih zuhud dalam (kehidupan) dunia dan lebih cinta kepada akhirat''.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Sabtu, 21 Desember 2013

Bukti baru ada kehidupan di Planet Mars

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjtRjO7LbVuOReCs3H-QPuG1V09jUSpYPsT8KZU1_ymlR9_svp6cJtrDqteT3Kf-K6kn8s0QtbxpoJq1LRrHSIJom_iTcjThLZYE9vY3vWMVVLx6NlazLqDdQR1suO96iM0L_moYvoePRE/s320/2ufdg09.jpg
Waw….. sungguh menakjubkan……..!!!
Ternyata menurut para peneliti Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) belum lama ini berhasil menemukan data yang menguatkan dugaan bahwa pernah ada kehidupan di planet Mars ……
Wah2…. bisa jadi ni kalo planet Bumi penuh kita2 bisa transmigrasi rame2 ke planet Mars…
hohohooo…….
katanya sieh…. data2 penemuan tersebut diperoleh dari Compact Reconnaissance Imaging Spectrometer for Mars (CRISM) dan instrumen lainnya pada Orbit Pengintaian NASA di Mars. Dua alat ini mengidentifikasi material yang terdapat di Planet Merah itu dengan mengamati 500 macam warna yang dipantulkan sinar matahari. Menurut para peneliti NASA, lubang lubang yang terdapat di planet itu pernah menjadi danau, sungai, dan segala macam kumpulan air yang bisa menunjang kehidupan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjW9EOnaARoZfzKoFzZGGo0EjXa6Z2zzELV5HlOFLFWV3POVDFXD8dateH5R8fpeQ4nT1WqbRdt5pPdmrn891uPaJ8RmbEXdV1jVctmpeyDD25HfsRgg0TI41oa4wxUawgTxXt_i7lTWf4/s320/marssea2.jpg
Hal yang mencengangkan adalah terdapat tanda-tanda bahwa pernah ada banyak air di planet itu. Ini artinya, pernah ada kehidupan di Mars papar Scott Murchie dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory, Maryland. Hal senada disampaikan John Mustard, peneliti dari Brown University. Mustard mengatakan, pantulan warna yang dikirim CRISM menunjukkan adanya tanda-tanda bekas genangan air di Mars.
Ada tanda tanda kehidupan di Mars. Mungkin itu berasal dari interaksi antara bebatuan dan air sekira 3 hingga 6 miliar tahun silam. Temuan Murchie dan Mustard ini sejalan dengan temuan peneliti dari University of Arizona yang terlibat dalam misi wahana tak berawak Phoenix Mars Landers. Seperti diketahui, saat ini Phoenix yang dilengkapi dengan laboratorium mini tengah meneliti kandungan tanah Mars.
Hasil penelitian para ilmuwan berhasil menemukan jejak es di Kutub Utara Mars. Bongkahan putih yang diambil menggunakan lengan robot pada tersebut mencair ketika dibiarkan selama beberapa hari. Tidak hanya itu, para peneliti juga berhasil mendeteksi pH planet itu, yakni mengandung pH antara 8 hingga 9.
Terdapat magnesium, sodium, potasium, dan chlorida di tanah Mars. Kondisi tanah seperti itu cocok ditanami asparagus, buncis hijau, dan lobak,ujar Peter Smith peneliti dari University of Arizona seraya mengatakan bahwa saat ini para peneliti tengah berupaya untuk mengambil kembali contoh es di planet Mars.
Pada tubuh Phoenix, NASA memasang instrumen laboratorium yang dapat dikendalikan dari Bumi. Misi utama Phoenix adalah mendeteksi adanya jejak kehidupan di planet yang berjarak 680 juta kilometer dari Bumi itu. Phoenix akan menjalankan misinya selama 90 hari.

Hiu Megalodon, Hiu Prasejarah Tertangkap Kamera

Sewaktu searching Youtube dengan keysearch: Top Ten Of The Most Dangerous Sharks in The World, di barisan kanan favorit video youtube juga memperlihatkan seekor ikan hiu dengan kepala terluka berdarah disiram oleh orang-orang dengan slang air sebagai screenshootnya. Lalu saya mencoba mencari referensi yang lainnya melalui google, berikut rangkuman dari saya:





Klik!!

Menurut Wikipedia Indonesia, Megalodon (atau Megatooth yang berarti gigi raksasa) merupakan sebuah spesies hiu purba raksasa. Hidup antara 20 sampai 1, 2 juta tahun yang lalu. 

Konon, hiu ini berukuran lebih besar daripada sebuah kapal pesiar. Ukuran dari makhluk ini masih menjadi kontroversi. Meskipun begitu, para ahli sains mengatakan bahwa ukuran hiu ini lebih besar dari Hiu Paus (Rhincodon typus). 

Setelah Whale Shark, ada lagi Basking Shark, hiu terbesar kedua setelah Whale Shark. Berikut adalah gambarnya.

Dari situs Discovery dan National Geographic, menyebutkan bahwa penelitian modern para ahli menyakini bahwa Megalodon memiliki panjang sekitar 15, 25 meter atau 50 kaki (sedangkan Whale Shark 12, 50 meter). Sangat berbeda seperti yang diteorikan oleh para ahli ketika melihat gigi Megalodon untuk pertama kali (80 kaki).  Masih menurut San Diego Natural History Museum, gigi  Megalodon ditemukan di beberapa tempat seperti di Amerika Utara dan Selatan, Eropa, Australia, India, Jepang,  dan Afrika dan  sepertinya memang makhluk ini berada di seluruh belahan Bumi.
Dari gambar diatas, kita bisa melihat perbandingan ukuran Megalodon dengan hiu lainnya. Megalodon digambarkan berwarna abu-abu (panjang maksimum) dan merah, sedangkan ukuran Whale Shark (Hiu Paus) adalah yang violet, dan yang terakhir adalah Hiu Putih Raksasa (Great White Shark) yang digambarkan dengan warna hijau.
Rekonstruksi oleh Bashford Dean pada tahun 1909
Jika kita melihat perbandingan ukuran Megalodon dengan dua jenis hiu yang sudah saya sebutkan diatas (Great White Shark dan Whale Shark), kita akan mendapati bahwa Megalodon digambarkan menyerupai Great White Shark. 
Ukuran gigi Megalodon
Hal itu tidak lepas dari kontroversi yang mengatakan bahwa Great White Shark ada kedekatan dengan Megalodon. Sedangkan yang lainnya menyebutkan bahwa Great White Shark adalah Megalodon tersebut. Karena itu lah Megalodon lebih disebut C. Megalodon. 
Namun, penelitian memunjukkan bahwa C untuk C. Megalodon adalah dari Carcharodon (genus dari Great White Shark) Sehingga akhirnya, diputuskanlah bahwa Carcharodon Megalodon lah yang lebih tepat, karena adanya kesamaan morfologi antara Great White Shark dan Megalodon. 

Jadi, kita sudah tahu alasan mengapa pada diagram perbandingan ukuran tersebut, C. Megalodon terkesan seperti Great White Shark. Selain, itu, ada alasan lagi yang mengatakan bahwa Great White Shark sudah ada sejak dahulu kala. 
Lalu ada lagi video dari jepang yang menampilkan ikan besar lainnya, sepertinya megalodon, Semula, ketika saya melihat video yang menampakkan gambar nomor dua, saya berpikir bahwa itu adalah Megamouth. 

Wah Megamouth!? Apalagi itu?
Jika Megalodon adalah Megatooth (gigi besar) maka ada hiu yang bernama Megamouth. Tapi hiu ini bukanlah hiu yang suka membual (bermulut besar).
Tapi ternyata, kepala hiu di video tersebut sama sekali tidak menyerupai Megamouth. Dan berikut adalah gambar dari Megamouth. (Wikipedia link)

Lalu hiu apakah yang terekam di video dari Jepang tersebut?
Ketika melihat video di youtube, untuk memastikan apakah video itu real atau tidak, Anda bisa memperhatikan komentar-komentar yang merujuk pada video yang sedang Anda lihat. Memang, banyak sekali kata-kata kotor yang keluar dari berbagai orang. Nah, ketika melihat video hiu dari Jepang tersebut, ada komentator yang mengatakan bahwa itu adalah Greenland Shark (Agayabak link). Apakah Greenland Shark itu? Greenland Shark (Sleeper Shark) adalah hiu laut dalam yang hidup di kedalaman 2000 meter. Hiu yang termasuk dalam genus Somniosus tersebut, tersebar di beberapa wilayah. Dan berikut adalah peta persebaran hiu tersebut :
"Tapi kok tidak ada yang menunjukkan bahwa hiu di video tersebut adalah Greenland Shark ya? Karena tidak adanya indikator yang menunjukkan Jepang termasuk dalam penyebaran Greenland Shark!"
Nah, di sinilah letak masalah tersebut!
Ketika melihat video hiu dari Jepang tersebut, judul teksnya bertuliskan huruf Jepang. Seperti inilah huruf-hurufnya : 
深海の巨大サメ オンデンザメ
Saya mencopy judul tersebut, dan menaruhnya pada Google Translate, dan jadilah kata tersebut sebagai berikut:
Inggris : Deep-Sea Shark Ondenzame
Indonesia : Hiu Laut Ondenzame
Ketika saya mencari nama Ondenzame tersebut, saya menemukan web Universal Fish Catalogue yang menyebutkan bahwa Ondenzame adalah nama Jepang untuk sebuah spesies hiu. Lalu hiu apakah yang dimaksud? Jawabanya adalah : PACIFIC SLEEPER SHARK!

Dan memang namanya sudah tertulis di samping tulisan Jepang tersebut dibagian judul. Hiu yang panjangnya mampu mencapai 7 meter ini, adalah hiu yang masih satu famili dengan Greenland Shark (Somniosidae). Ada sebuah video yang saya duga adalah lanjutan dari video hiu dari Jepang tersebut. Dan kita bisa mendengar komentatornya berkata "Ondenzame, Ondenzame" berkali-kali. Klik di  sini untuk melihat video tersebut. Analisa singkat saya tersebut hanya ingin membuktikan bahwa video hiu di Jepang tersebut bukanlah asli Megalodon.
Berikut adalah peta persebaran Ondenzame atau Pasific Sleeper Shark. Dan kali ini, Jepang termasukdalam persebarannya.
Jadi, apakah Megalodon itu benar-benar ada?
Ataukah itu hanyalah sebuah fosil gigi dari hiu Great White Shark?
Jika memang bukan, gigi hiu apakah yang begitu besar hingga nyaris dua meter dan bisa membunuh manusia hanya dengan satu gigi saja?
Ada satu pernyataan yang harus diingat, jika cumi-cumi raksasa sudah ditemukan, dan beberapa kemunculan "monster" danau banyak dilaporkan, maka tidak menutup kemungkinan hewan-hewan berukuran raksasa masih berada di muka Bumi. 
Jauh di kedalaman laut sana, masih tersembunyi makhluk-makhluk yang belum diketahui manusia.

UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

Kerusakan lingkungan hidup terjadi sebagai ulah akibat tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab dalam memanfaatkan sumber daya yang terkandung di alam. Jika proses perusakan unsur-unsur lingkungan hidup tersebut terus menerus dibiarkan berlangsung, kualitas lingkungan hidup akan semakin parah. Oleh karena itu, manusia sebagai aktor yang paling berperan dalam menjaga kelestarian dan keseimbangan lingkungan hidup perlu melakukan upaya yang dapat mengembalikan keseimbangan lingkungan agar kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya dapat ber kelanjutan.

Upaya pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan pengaturan dan pengelolaan lingkungan hidup, yaitu Undang- Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang tersebut kemudian dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 mengenai Analisis Dampak Lingkungan, PP No. 19 Tahun 1999 mengenai Pengendalian Pencemaran Danau atau Perusakan Laut, dan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, serta Undang Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Adapun inti dari peraturan-peraturan tersebut adalah bagaimana manusia dapat mengelola dan memanfaatkan sumber daya lingkungan secara arif dan bijaksana tanpa harus merusaknya. Apabila ada penduduk baik secara individu maupun kelompok melanggar aturan tersebut maka sudah sepantasnya dikenai sanksi yang setimpal tanpa memandang status. Di lain pihak, masyarakat hendaknya mendukung program-program pemerintah yang berkaitan dengan upaya pelestarian lingkungan.

Beberapa contoh bentuk upaya pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup pada wilayah daratan, antara lain sebagai berikut:
1. Reboisasi, yaitu berupa penanaman kembali tanaman terutama pada daerah-daerah perbukitan yang telah gundul.
2. Rehabilitasi lahan, yaitu pengembalian tingkat kesuburan tanah-tanah yang kritis dan tidak produktif.
3. Pengaturan tata guna lahan serta pola tata ruang wilayah sesuai dengan karakteristik dan peruntukan lahan.
4. Menjaga daerah resapan air (catchment area) diupayakan senantiasa hijau dengan cara ditanami oleh berbagai jenis tanaman keras sehingga dapat menyerap air dengan kuantitas yang banyak yang pada akhirnya dapat mencegah banjir, serta menjadi persediaan air tanah.
5. Pembuatan sengkedan (terasering) atau lorak mati bagi daerahdaerah pertanian yang memiliki kemiringan lahan curam yang rentan terhadap erosi.
6. Rotasi tanaman baik secara tumpangsari maupun tumpang gilir, agar unsur-unsur hara dan kandungan organik tanah tidak selamanya dikonsumsi oleh satu jenis tanaman.
7. Penanaman dan pemeliharaan hutan kota. Hal ini dimaksudkan supaya kota tidak terlalu panas dan terkesan lebih indah. Mengingat pentingnya hutan di daerah perkotaan, hutan kota sering dinamakan paru-paru kota.

Adapun upaya pelestarian lingkungan perairan antara lain melalui upaya-upaya sebagai berikut :
1. Larangan pembuangan limbah rumah tangga agar tidak langsung ke sungai.
2. Penyediaan tempat sampah, terutama di daerah pantai yang dijadikan lokasi wisata.
3. Menghindari terjadinya kebocoran tangki-tangki pengangkut bahan bakar minyak pada wilayah laut.
4. Memberlakukan Surat Izin Pengambilan Air ( SIPA ) terutama untuk kegiatan industri yang memerlukan air.
5. Netralisasi limbah industri sebelum dibuang ke sungai. Dengan demikian, setiap pabrik atau industri wajib memiliki unit pengolah limbah yang dikenal dengan istilah Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
6. Mengontrol kadar polusi udara dan memberi informasi jika kadar polusi melebihi ambang batas, yang dikenal dengan emisi gas buang.
7. Penegakan hukum bagi pelaku tindakan pengelolaan sumber daya perikanan yang menggunakan alat tangkap ikan pukat harimau atau sejenisnya yang bersifat merugikan.
8. Pencagaran habitat-habitat laut yang memiliki nilai sumber daya yang tinggi, seperti yang telah diberlakukan pada Taman Laut Bunaken dan Taman Laut Kepulauan Seribu.
Diposkan oleh Geografi

Mr Tukul Jalan-Jalan Singgahi Kalteng

Tukul Arwana, pelawak dan presenter kocak yang biasa tampil di layar kaca, sampai pula ke Bumi Isen Mulang. Dia datang bersama paranormal Mbah Bejo, Ki Ageng, pedangdut Lia Amelia dan puluhan kru untuk melakukan syuting di Kalteng.
Program Mr Tukul Jalan-Jalan yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta, bakal membuat heboh warga Kalteng. Pasalnya, Tukul melakukan syuting di beberapa tempat bersejarah di Kota Palangka Raya, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dan Katingan.
Tukul tiba di Palangka Raya, Jumat (1/2) siang, setelah mengunjungi Sampit, Kotim, dengan melibatkan sedikitnya 20 kru. Dalam rombongan, juga tampak artis dangdut ibukota, Lia Amelia, yang terkenal dengan lagunya SMS, paranormal asal Kota Semarang Mbah Bejo dan Ki Ageng.
Rencananya, rombongan Mr Tukul Jalan-Jalan ini akan mengunjungi beberapa situs peninggalan terkenal di Kalteng, yang memiliki nilai budaya dan mistis yang menjadi ciri khas suku Dayak.
Lokasi pertama, mengambil tempat di Museum Balanga Jalan Tjilik Riwut pada Jumat malam. Sekitar pukul 19.00 WIB, acara syuting pun dimulai. Tukul didampingi Mbah Bejo, Lia Amelia, dan krunya. Rombongan mengelilingi sejumlah lokasi di ruangan yang dinilai mempunyai kisah mistis.
Saat memasuki salah satu ruangan di museum, rombongan dan warga dikejutkan oleh teriakan histeris sang artis dangdut, Lia Amelia. Ia menangis akibat tidak tahan melihat sosok gaib yang dilihatnya sedang berusaha menjamahnya.
“Malam itu Lia tidak tahan melihat sosok gaib dan katanya dia dipegang juga oleh sosok makhluk itu. Dia gak kuat,” kata Hendri Bayu Adji, produser dalam acara ini saat dibincangi Tabengan di Betang Mandala Wisata, Sabtu (2/2).
Setelah itu, kru Mr Tukul Jalan-Jalan mendatangi beberapa situs yang dikeramatkan oleh masyarakat lokal Palangka Raya dan sekitar, seperti sandung Ngabe Sukah di area Pelabuhan Rambang dan Jembatan Kahayan yang memiliki mitos angker di mata masyarakat.
Dijelaskan Hendri, Kalteng merupakan daerah pertama di Kalimantan yang terpilih untuk melakukan syuting beberapa episode, yaitu pertama di Kota Sampit dan kali ini di Kota Cantik Palangka Raya.
Kru Mr Tukul Jalan-Jalan sendiri tiba di Kalteng, khususnya Palangka Raya pada Rabu (30/1) lalu. Mereka juga telah melakukan audiensi dengan Gubernur Kalteng Teras Narang untuk meminta izin melakukan syuting di wilayah Kalteng. Setelah audiensi, mereka berangkat ke Sampit dan balik lagi ke Palangka Raya.
Dalam episode di Kota Palangka Raya, Sabtu, mereka memulai kegiatan syutingnya dengan melakukan opening di monumen Tugu Soekarno Palangka Raya. Syuting kemudian dilanjutkan di Huma Betang Mandala Wisata yang melibatkan Gubernur Kalteng Teras Narang, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Saidina Aliansyah, dan beberapa staf protokol.
Konsep syuting siang itu menceritakan Tukul sedang berkunjung ke rumah khas Kalteng dan disambut oleh tuan rumah yang diperankan Gubernur Kalteng. Dalam adegan tersebut, Gubernur Kalteng menjelaskan kepada Tukul tentang rumah betang, ritual tiwah, budaya, kerajinan tangan dan adat-istiadat serta kuliner khas Kalteng.
“Huma betang adalah rumah besar yang merupakan rumah khas suku Dayak, yang di dalamnya menampung puluhan keluarga,” ucap Teras di depan kamera kru Mr Tukul Jalan-Jalan.
Dari luar, lanjut Teras, rumah adat ini berbentuk panggung dengan ruangan yang cukup luas di bagian bawahnya. Di sisi sebelah kiri dan kanan rumah, terdapat hiasan patung-patung sejenis totem yang bermuka unik dan enigmatik.
Jumlah patung-patung tersebut kurang lebih 4 buah di setiap sisi. Di sisi halaman depan rumah Mandala Wisata ini terdapat patung pemuda dan pemudi berpakaian adat Dayak Kalteng.
Rumah betang sendiri mempunyai arsitektur panggung dengan bangunan di atasnya yang sengaja dibuat memanjang. Ketika rumah betang sedang dibangun, harus diperhatikan ke mana arah pembangunannya. Bagian hulu dari rumah betang harus dibuat sejajar dengan arah matahari terbit. Sementara bagian berlawanan dari rumah betang yang disebut dengan hilir, harus dibuat menghadap arah matahari terbenam.
Jumlah bilik/kamar menunjukkan jumlah keluarga yang menempati rumah betang. Setiap bilik akan ditempati oleh satu keluarga, sehingga semakin banyak bilik, maka rumah betang menjadi semakin panjang.
Karena ada banyak keluarga yang menempati satu rumah, maka akan diperlukan sistem untuk menjaga hubungan baik antarkeluarga.
Sistem yang mereka gunakan lebih mirip sistem pemerintahan personal. Ada satu orang tetua yang dipilih, di mana dia harus menerapkan aturan adat yang telah dibuat sebelumnya. Tentu saja setiap kepala keluarga bisa mengajukan pendapat mereka, tapi hasil akhirnya ditentukan oleh tetua adat bukannya hasil voting.
“Apabila keputusan telah diambil oleh tetua adat, maka setiap kepala keluarga harus menaatinya. Sistem ini memungkinkan mereka menjaga kerukunan antarkeluarga yang tinggal di rumah betang,” ungkap Teras.
Selain menjelaskan tentang rumah betang, Teras juga menjelaskan tentang ritual tiwah, acara sakral bagi warga suku Dayak yang dapat dilakukan selama beberapa hari, minggu, dan bulan, tergantung dengan kemampuan pihak yang mengadakan.
Selain itu, Teras juga menjelaskan tentang kesenian yang ditinggalkan nenek moyang dari seni tari hingga seni suara yang biasa disebut karungut, deder, kerajinan tangan dan adat-istiadat, serta kuliner khas Kalteng yang dapat menjadi daya tarik wisatawan.
Gubenur Kalteng juga meminta bantuan kepada Mr Tukul dan para pemirsa setia Mr Tukul Jalan-Jalan untuk mempromosikan Kalteng yang kaya akan alam, flora dan faunanya ini ke dunia luar.
“Kalteng kaya akan alam, termasuk flora dan faunanya yang dapat dijual untuk wisatawan lokal dan internasional. Dengan kedatangan Mr Tukul saya harap ini akan mempromosikan Kalteng ke dunia luar,” harap Teras mengakhiri syuting pagi itu.
Tukul dan rombongan sangat terkesan dengan kekayaan yang ada di Kalteng. Ia berharap suatu saat nanti akan kembali lagi ke Kalteng untuk bisa menikmati kekayaan alam yang tidak akan habis-habis ini, terutama jika selalu dilestarikan.
Amazing ... Saya berharap bisa kembali lagi ke sini untuk menikmati kembali kekayaan Kalteng, yang belum semua saya ketahui. Saya harap ini akan selalu dijaga dan dilestarikan,” ujar Tukul dibarengi dengan candaan khas pelantun lagu Wong Deso tersebut.
Rombongan Tukul siang itu akan melanjukan perjalanan ke Bukit Batu Katingan, setelah itu ke Batu Banama Tangkiling untuk melanjutkan syuting mereka di Kota Cantik Palangka Raya. Rombongan dijadwalkan balik ke Jakarta pada Minggu (3/2) pagi

Mengenang Kerusuhan Sampit, 2001

Saya paham sepenuhnya, judul di atas merupakan isu sensitif yang pamali dibahas hingga sekarang. Di postingan kali ini saya hanya sekedar ingin berbagi mengenai apa yang saya alami ketika konflik tersebut terjadi. Bahkan dalam penyebutannyapun, semacam di’atur’ oleh –entah-siapa-
Saya sempat bekerja di media dan menemukan bahwa media massa dilarang menyebut peristiwa 18 Februari 2001 dengan istilah ‘kerusuhan’, ‘perang etnis’ maupun ‘pertikaian adat’. Kami, (saya dan redaktur sempat berdiskusi alot mengenai hal ini) kemudian memutuskan untuk mempublishnya dengan sebutan Konflik Etnik. Merujuk pada Peraturan Daerah Kab. Kotim nomor 5 tahun 2004 tentang penanganan penduduk dampak konflik etnik.
Di bawah ini adalah tulisan saya untuk media mengenai konflik etnik 2001.
(tulisan ini ketika masih mentah dan belum masuk meja redaksi, saya sendiri banyak menggunakan istilah Kerusuhan di dalamnya. Well, bagi saya apa yang terjadi layak disebut kerusuhan, even worse).
1295602253398855302
Napak Tilas Konflik Etnik 2001
Sembilan tahun sudah kerusuhan berlalu. Waktu yang lebih dari cukup untuk merefleksi dan menyadari fungsi sebenarnya keberadaan seseorang di bumi Habaring Hurung. Dua pasca kerusuhan hingga saat ini, secara alamiah warga Madura kembali ke tanah kita. Kali ini mereka membawa salam damai, keinginan tulus untuk menyatu dan menjunjung tinggi falsafah Belum Bahadat yang senantiasa digaungkan oleh petinggi adat di Kalimantan Tengah.
Rusnani Anwar, Sampit
Sempat menjabat sebagai kepala Satuan Polisi Pamong Praja pada tahun 2001 membuatnya harus terlibat langsung dalam kerusuhan antar etnis Dayak dan Madura kala itu. “Tahun 2001 adalah puncak kerusuhan, sebenarnya kerusuhan itu dimulai sejak tahun 1999,” ujar Mantil saat ditemui di kantornya Sabtu (13/2) lalu.
Konflik awal terjadi pada tahun 1999, tepatnya 23 September malam, sebuah perkelahian ditempat karaoke yang berlokasi di perbatasan Tumbang Samba menewaskan Iba Tue, seorang Dayak Manyan yang dibantai oleh sekelompok suku Madura. Warga Dayak yang kesal karena Iba Tue tidak bersalah meninggal kemudian melakukan pembalasan dengan membakar rumah dan ternak suku Madura di Tumbang Samba.
Diawali kejadian sepele tersebut, pembakaran melebar hingga nyaris ke seluruh desa. “Saat itu upaya pemerintah adalah dengan mengevakuasi warga madura,” ujar Mantil. Sebanyak 37 warga Madura diungsikan keluar dari wilayah konflik (Tumbang Samba) untuk mencegah kemungkinan munculnya korban yang lebih besar. Lepas diungsikannya warga, keadaan di Tumbang Samba meredam.
Keadaan kembali memanas ketika setahun sesudahnya, 6 Oktober 2000, terjadi pengeroyokan oleh sekelompok orang Madura terhadap seorang warga dayak bernama Sendung di sebuah lokalisasi kilometer 19 Katingan. Sendung tewas dengan kondisi mengenaskan. Merasa marah, suku Dayak akhirnya melakukan sweeping terhadap suku Madura, kali ini kuantitas korban jauh lebih besar daripada tahun 1999. Korban jiwa berjatuhan, bus bus trans milik warga Madura dibakar, sementara para penumpang (suku Madura) disekap lantas dibantai. Upaya pemerintah saat itu adalah mediasi melalui upacara adat Dayak agar konflik tidak berkelanjutan.
Keadaan pun mulai mereda. Namun siapa sangka hanya berselang empat bulan, tepatnya pada 18 Februari 2001, kerusuhan dengan skala besar terjadi. “Keadaan memang sudah labil, tapi tetap saja kita terkejut,” ungkap Mantil. Pada Minggu subuh (18 Februari) etnis Madura mengepung rumah Sehan dan Dahur, keduanya merupakan suku dayak Manyan. Sehan adalah purnawirawan TNI pada saat itu. Pengepungan itu berakhir dengan dibakarnya rumah Sehan dan Dahur, keduanya (beserta keluarga) tewas terbakar. Total sepuluh tewas pada pagi itu.
Kerusuhanpun pecah, pembakaran, pembantaian terjadi sepanjang hari itu. Polres dan TNI bekerjasama mengungsikan warga Sampit ke Palangkaraya. Di tengah perang yang mulai berkecamuk, pada Senin malam, tepatnya pada pukul 10.25, serangan balik dari suku Dayak dilancarkan. Seminggu penuh aksi balas itu berlangsung, tidak terhitung berapa rumah terbakar dan leher terpenggal selama perang itu terjadi. “Hingga seminggu setelah tanggal 18 itu, kita 18 kali mengungsikan warga madura ke Surabaya,” ujar Mantil. Jumlah total warga yang mengungsi mencapai angka 57.000 jiwa.
Para pengungsi di angkut menggunakan kapal milik TNI dan perusahaan pelayaran swasta. Mereka di angkut menuju pulau Madura. Hingga kini masih terekam dalam kepala warga Sampit mengenai sungai Mentaya yang dipadati mayat tanpa kepala. Dan tentu saja, bau anyir darah yang menguar hingga sebulan lepas kerusuhan. Tidak ada kalkulasi pasti mengenai jumlah spesifik korban kerusuhan.
Saat kerusuhan terjadi, markas Madura terkonsentrasi di Jalan Sarigading dan Hotel Rama. Wajar jika kemudian temuan mayat terbanyak ada di kedua tempat tersebut. Suasana mencekam berlangsung hingga sebulan pasca kerusuhan, Sampit berubah menjadi kota mati, bau amis menyengat di setiap sudut kota. Tubuh tubuh tanpa kepala bergelimpang di tepi jalan. Mayat-mayat korban kerusuhan akhirnya dikuburkan secara massal di kilometer 13,8 Jl. Jendral Sudirman. “Saya dan asisten I Kotim saat itu, pak Duwel Rawing (bupati Katingan sekarang) sempat bingung kemana mayat-mayat itu harus dikuburkan, akhirnya, kita sepakat untuk dimakamkan ke Km 13,” ujar Mantil.
Tidak main-main, jumlah mayat yang menggunung dan sebagian besar sudah hancur itu harus dimakamkan secepatnya. Tidak memungkinkan untuk menyolati mayat satu persatu. “Saya sampai trauma makan seusai pemakaman itu,” tutup Mantil.(***)
Kala itu, saya diminta untuk membuat sebuah liputan khusus (tipenya indepth news). Saya kemudian mengisi satu halaman penuh edisi lipsus dengan tema konflik etnik. Tulisan di atas sengaja disuguhkan dengan gaya penulisan boks (ringan). Rasanya agak sulit menerjemahkannya ke dalam straight news. Lagipula, saya merasa memiliki sedikit kelebihan dalam menyusun kalimat dalam penulisan boks.
Saya menemui Mantil F Senas sebagai narasumber. Untuk alasan status jabatannya di tahun 2001, dan dari segi kesukuan beliau. Beliau seorang dayak dan beragama (?) kaharingan. Namun jujur saja, saya sempat jatuh bangun mengejar beliau. Di kalangan wartawan, Mantil merupakan sosok yang cukup sulit ditemui. Sebagai kepala dinas, mobilitas beliau cukup tinggi.
Seorang rekan (dan) saya bahkan sempat menunda penugasan hingga sebulan lebih lantaran beliau jarang ada di tempat. Jangan tanya mengenai akses komunikasi, meminta nomor handphone beliau sama susahnya dengan minta dikawini Bratt Pit (sori jayus). Dan akhirnya saa berhasil memawancarai beliau. Data yang didapat (menurut saya) sangat dayaksentris.
Untuk mencoba mengimbangkan beritanya, saya mencoba untuk mencari sisa sisa anggota Ikatan Keluarga Madura (Ikama). Yang saya belum ketahui saat itu adalah, Ikama ternyata sudah dilarang masuk ke Sampit (Kotim). Hal ini di atur dalam Perda Kotim nomor 5 tahun 2004 pasal 7 ayat (2).
“Tidak terlibat langsung pada peristiwa konflik dan tidak terdaftar dalam pengurus IKAMA”
Saya kemudian memutuskan untuk menulis :
Mereka Pasrah, Diam dan Menyerah
RUSNANI ANWAR, Sampit
12956024031737687766
Napak tilas perang etnis mengantarkan saya ke perkampungan warga Madura di kawasan Gang Kutilang, Jalan Perkutut kelurahan MBH Utara, kecamatan Baamang. Sembilan tahun lalu wilayah ini penuh dengan warga Madura. Di Sampit (dan juga banyak wilayah Kotim lainnya), banyak terdapat titik titik perkampungan madura. Mereka terbiasa hidup berkelompok. “Kita tidak pernah cekcok, damai sekali,” ujar Arifin, warga gang Kutilang memaparkan bagaimana interaksi mereka terhadap warga non Madura.
Pria yang mengaku berasal dari Surabaya ini menyatakan memang ada yang berubah dalam perihal tingkah laku warga Madura yang kembali datang ke Sampit. Mereka sekarang lebih diam, memilih untuk menekuni kehidupan mereka sendiri tanpa meributkan siapa yang harus berkuasa terhadap siapa.
Saat ini, mereka yang menjadi korban kerusuhan perlahan kembali ke tempat tinggal mereka dulu. “Saya salut dengan kemampuan orang Madura dalam hal bekerja, mereka memulai lagi semuanya dari nol, kerja keras mereka seperti tidak ada batasnya,” papar Wahidah, warga jalan Kutilang. Padahal jika bicara mengenai perasaan, mereka para warga kecil Madura layak mengeluh. Mereka yang tidak tahu menahu harus menjadi korban, tersingkir dari tanah kelahiran, kehilangan seluruh harta benda.
Tegar. Sebuah kata yang mampu merangkum seluruh perjuangan warga Madura yang kembali ke Sampit. “Saya di Madura malah bingung mau kerja apa, di sana saya tidak punya apa-apa,” ujar seorang Madura yang sedang asik meladang pada Minggu (14/2) pagi. Di atas sisa-sisa bangunan rumah yang habis diluluhlantakkan mereka membangun kembali nafas mereka. Menyusun kembali kepingan harapan di tanah ini.
Tidak sedikit dari mereka yang dulu seorang pengusaha berubah menjadi pekerja kelas rendah. Menjadi pedagang upahan, buruh usaha kecil rumahan, tukang becak, pemulung, apa saja mereka geluti. Sulit rasanya menemukan ketabahan luar biasa semacam itu di zaman sekarang.
“Mereka (warga Madura), ketika kembali kesini seperti tidak kaget melihat harta bendanya hilang semua. Mereka bilang ‘Semua milik tuhan pasti akan kembali padanya’, saya sampai sedih mendengarnya,” ujar salah seorang keluarga Arifin.
129560209915360917
Padahal, jika hendak mengenang masa lalu, tahun tahun sebelum kerusuhan adalah masa emas bagi warga Madura di Sampit. Kebanyakan dari mereka memang merupakan pekerja kerah putih. Yang sekedar berprofesi sebagai petani, pedagang pasar maupun buruh bangunan. Sempat hadir sebuah guyonan lokal yang kurang lebih menyebutkan warga Madura menyebut Sampit laksana surga, lantaran pulau asal mereka hanya ada garam.
Sebuah kisah kuno tentang sejarah suku Dayak saya temukan pada Perpustakaan dan Arsip Daerah Kotim. Kisah kuno mengenai tokoh Mangkurambang, seorang dayak yang dikisahkan berlayar dan terdampar di pulau Nipah, Madura. Entah cerita tersebut sekedar sage atau justru kisah nyata, setidaknya dapat memberikan gambaran seperti apa hubungan suku Dayak-Madura di masa lampau.
Dikisahkan dalam perjalanannya merantau, Mangkurambang membawa seekor ayam jago. Dalam pelayarannya, pemuda itu terdampar dis ebuah pulau bernama Pulau Nipah. Di sana, ayam yang ia bawa terus berbunyi gaduh. Hal ini memicu kemarahan raja Nipah, raja merasa intergritasnya sebagai pemimpin suku direndahkan karena ayam yang terus berbunyi tersebut.
Perkelahianpun digelar, raja Madura melawan Mangkurambang sang putra Dayak. Dalam dongeng itu, Mangkurambang memenangi duel tersebut. Putri raja Madurapun dipersunting oleh Mangkurambang sebagai hadiah pertandingan. Mereka lantas hidup di pulau Nipah dan memiliki keturunan berdarah Madura-Dayak.
Dalam sekali waktu, kepala ikatan keluarga madura (IKAMA) H. Marlinggi (alm) menyatakan bahwa beliau itu separuh badannya merupakan orang dayak ,”Nenek moyangnya orang Nipah, jadi pak haji (Marlinggi) saja mengakui kalau di Madura ada suatu pulau dimana seluruh orang disana keturunan Dayak,” papar Mantil F Senas, kepala Disdukcapil Kotim yang terlibat langsung dalam konflik etnis 2001 silam.
Dalam rangka sosialisasi peraturan daerah nomor 5 tahun 2004 ke kecamatan Ketapang, Madura pada 22 Agustus 2004 silam, tim sosialisasi difasilitasi warga
Ketapang untuk berkunjung ke Pulau Nipah. Mantil yang tergabung dalam tim tersebut mengaku kaget melihat kebiasaan warga Pulau Nipah. Pasalnya, warga pulau itu memiliki kebudayaan yang sangat serupa dengan suku Dayak, baik dari adanya mandau, bentuk bangunan, hingga kebiasaan teriakan Dayak dalam memanggil kera.


1295602564612976013
Sosialisasi peraturan daerah no. 5 tahun 2004-pun disambut positif oleh warga Madura, peraturan tersebut antara lain menekankan bahwa warga manapun yang menjadi pendatang di tanah habaring hurung harus menjunjung tinggi falsafah ‘Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung’, selain itu, perda tersebut juga melarang orang-orang yang memiliki hubungan dengan IKAMA (Ikatan Keluarga Madura) kembali ke kota Sampit.
Perda tersebut, menurut Mantil sudah dipahami oleh warga Madura. Pasal-pasal di dalam perna merunut persis tentang prosedur bagaimana seorang Madura bisa kembali tinggal di Sampit. Antara lain ketentuan bahwa keharusan mereka membaur dan mengikuti pola adat warga setempat. Kemudian dipaparkan bahwa yang menjadi “eksekutor” atau pemegang hak untuk memperbolehkan atau menentang keberadaan warga Madura di lingkungan masyarakat adalah masyarakat itu sendiri. “Jika warga lokal menolak, maka mereka harus pulang,” ujar Mantil.
Hal ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan munculnya kecemburuan sosial seperti yang terjadi sebelum kerusuhan. Keadaan dimana pasar dikuasai oleh etnis tertentu membuat warga asli merasa cemburu. Mantil juga mengakui jika dulu, warga Madura memiliki perangai keras. “Saya sampai kesulitan mengevakuasi pasar pada saat kerusuhan itu,” tutupnya. Namun sekarang, sembilan tahun pasca bencana, keadaan sudah kondusif, warga Madura yang kembali ke Sampit telah memahami sepenuhnya peranan dan fungsi mereka sebagai warga pendatang.(***)
Ketika kerusuhan terjadi, saya baru berusia sembilan tahun. Sedari kecil saya tinggal di perkampungan Madura. Umur sembilan tahun menjadi penanda pertama kalinya saya melihat mayat tanpa kepala, menelan ‘ajian’ dayak yang bisa membuat tubuh kebal tombak, dan terjebak di dalam rumah yang tengah diserbu massa. Sama sekali bukan masa kecil yang menyenangkan.
Saya menyadari sepenuhnya indepth news yang saya coba bangun ini gagal. Saya tidak berhasil cover both side. Saya belum mampu menafsirkan apa yang terjadi dengan warga Madura hingga nekat menyerang warga dayak di Tumbang Samba. Jika berdasarkan konflik perorangan, mengapa bisa meluas menjadi begitu besar?
Sejauh ini, yang saya ketahui mengenai percikan awal kerusuhan hanyalah pertikaian seorang Madura terhadap Dayak. Ini hanya pendapat saya, mungkin ada semacam kecemburuan sosial terhadap kaum Madura yang secara implisit ‘menguasai’ Kotim dalam segi ekonomi. Iri? Atau justru ada semacam kesetiakawanan yang sangat besar dalam tubuh masing masing suku hingga rela mati demi terinjaknya harga diri seorang warganya?
Atau, apakah ini lebih dari sekedar konflik internal antar suku saja? Apakah ada kepentingan kekuasaan atau politisasi unsur SARA? (mengingat di tahun 2001 adalah masa kepemimpinan Gus Dur, yang mana kita tau, beliau adalah persona non grata di pemerintahan). Apakah benar ini hanya persoalan semantik antar suku saja? atau ada kekuatan yang jauh lebih besar dan ikut melakukan politik ventriloquist?
Sebagai pemuja teori relativitas, maka jawaban saya, seperti biasa,
MUNGKIN
12956023211549972204

Gawai Dayak: Upacara Panen Suku Dayak di Kalimantan Barat

Tinjauan


Gawai Dayak dan Sejarah Perkembangannya
Ada banyak cara untuk mengungkapkan rasa syukur, salah satunya adalah dengan menggelar serangkaian upacara adat. Gawai Dayak adalah satu-satunya, upacara adat ini rutin digelar suku Dayak di Pontianak, Kalimantan Barat dan telah berlangsung sejak puluhan tahun. Inti pelaksanaan upacara ini adalah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Jubata (Tuhan) atas panen yang melimpah, sekaligus memohon agar panen berikutnya diberi kelimpahan.

Gawai Dayak tradisional biasanya dilaksanakan selama tiga bulan oleh suku Dayak di Kalimantan, khususnya Dayak Iban dan Dayak Darat sebagai wujud syukur atas hasil panen. Ada sejumlah upacara yang harus dilakukan dalam Gawai Dayak. Upacara adat tersebut menjadi semacam rangkaian prosesi baku yang harus dilewati. Beragam makanan tradisional dan sejumlah sesaji pun tak lupa disiapkan sebagai salah satu unsur penting upacara.

Seiring perkembangan zaman dan isu kepentingan, kini upacara Gawai Dayak tradisional mengalami beberapa penyesuaian namun tetap mempertahankan unsur-unsur penting terutama urutan dan prosesi upacaranya itu sendiri. Bekerja sama dengan pemerintah daerah Gawai Dayak kini hanya digelar selama sepekan dan rutin dilaksanakan pada 20 Mei setiap tahunnya. Nama kegiatan bermuatan kepentingan budaya ini pun sekarang dikenal dengan Pekan Gawai Dayak.

Pekan Gawai Dayak digagas berawal dari keinginan untuk saling memperkuat, mengenalkan tradisi Dayak, sekaligus sebagai ajang pelestarian tradisi leluhur. Gawai Dayak sendiri adalah upacara adat tradisional yang menjadi semacam media mempererat suku Dayak dan bagian penting dari pekan adat tersebut. Kesadaran tersebut bermula pada tahun 1986 ditandai dengan terbentuknya Sekretariat Kesenian Dayak (Sekberkesda). Sekberkesda bertugas menggelar dan mengonsep seni budaya Dayak yang kemudian menggagas pekan seni budaya yang kini dikenal dengan Pekan Gawai Dayak.

Sejak tahun 1986, Pekan Gawai Dayak telah dilaksanakan secara terorganisir dan mendapat pendanaan dari pemerintah daerah. Disebutkan bahwa Pekan Gawai Dayak bermuatan politis karena tidak murni tradisional melainkan mengandung kepentingan pengembangan pariwisata dan bahkan kepentingan yang bersifat politis. Akan tetapi, terlepas dari itu, Pekan Gawai Dayak terbukti telah memberi dampak positif bagi pelestarian sekaligus pengembangan budaya Dayak di Kalimantan Barat. Ia menjadi semacam pemantik kecintaan terhadap budaya lokal suku Dayak yang kemudian mendorong usaha pelestarian dan promosi wisata. Pekan Gawai Dayak tentunya berpotensi sebagai kegiatan yang dari segi ekonomi akan pula memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan daerah.

Terlepas dari berbagai isu kepentingan politis, Pekan Gawai Dayak juga mendapat dukungan dari masyarakat budaya Dayak karena bagaimanapun kegiatan tersebut memiliki kepentingan pelestarian budaya lokal. Sekberkesda sendiri mendapat dukungan dari sekira 23 sanggar yang merupakan representasi kelompok subsuku Dayak yang ada di Pontianak, Kalimantan Barat.

Prosesi Gawai Dayak Tradisional dan Pekan Gawai Dayak
Gawai Dayak tradisional adalah  pelaksanaan upacara pasca panen yang meliputi serangkaian upacara adat sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas kelimpahan hasil panen. Gawai Dayak tradisional pelaksanaannya dapat memakan waktu hingga tiga bulan, yaitu biasanya pada Bulan April sampai Juni. Pelaku upacara adat akan mengenakan pakaian tradisional berikut perhiasan tradisional seperti manik orang ulu dan kerajinan perak tradisional.

Dalam upacara Gawai Dayak, terlebih dahulu akan diadakan ngampar bide atau menggelar tikar. Upacara ini hanya dan khusus digelar menjelang pelaksanaan upacara Gawai Dayak yang biasanya berlangsung di rumah Betang Panjang, rumah adat di Kalimantan Barat. Tujuannya adalah memohon kelancaran dan kemudahan selama pelaksanaan upacara Gawai Dayak. Dalam ngampar bide sendiri terdapat serangkaian tahapan pelaksanaan, yaitu nyangahathn manta’ (pelantunan doa/mantra) sebelum seluruh kelengkapan upacara disiapkan dan ngadap buis, yakni tahapan penyerahan sesaji (buis) kepada Jubata (Tuhan).

Nyangahatn manta’ terbagi menjadi tiga bagian, yaitu matik (semacam upacara pemberitahuan kepada kepada awa pama atau roh leluhur dan Jubata (Tuhan) tentang akan diadakannya upacara tersebut; ngalantekatn (memohon keselamatan bagi semua pihak pelaksanan upacara); dan mibis (semacam upacara pemurnian agar kotoran musnah). Dalam upacara nyangahatn manta, sesuai namanya, sesaji yang disiapkan biasanya adalah bahan yang belum masak atau mentah (manta).

Upacara selanjutnya disebut ngadap buis (nyangahatn masak); merupakan upacara adat puncak dari keseluruhan proses ngampar bide dimana seluruh peraga adat sudah tersedia. Pada tahapan ini, sesaji (buis) yang berupa makanan masak dipersembahkan kepada  awa pama dan Jubata, sebagai wujud rasa syukur sekaligus permohonan berkat.

Ngampar bide dihadiri para tokoh Dayak yang berperan dalam menyiapkan Gawai. Mereka membahas persiapan, menyiapkan, dan tentunya melaksanakan acara inti, yaitu memohon perlindungan Jubata atas kelancaran upacara. Pada upacara penutupan akan digelar gulung bide (gulung tikar) yang menandai berakhirnya upacara.

Pekan Gawai Dayak (Gawai Dayak modern) masih melaksanakan serangkaian upacara tersebut di atas tetapi tidak memakan waktu berbulan-bulan. Sesuai namanya, upacara ini hanya dilaksanakan dalam waktu sepekan, setiap 20 Mei sebagaimana diarahkan oleh Gubernur Kalimantan Barat terdahulu, Kadarusno. Pekan adat ini tidak hanya diramaikan oleh kegiatan upacara tetapi juga beragam kegiatan seni yang melibatkan banyak kalangan masyarakat di Kalimantan.

Seminar budaya, pementasan tari tradisional yang biasanya menandai dimulainya Pekan Gawai Dayak akan pula mewarnai acara tersebut. Ada pula beragam atraksi budaya khas Dayak, termasuk ditampilkannya beberapa permainan tradisional. Ada juga beragam stand sebagai tempat menyuguhkan aneka budaya dan produk budaya khas Dayak, seperti kerajinan tangan, produk seni, dan makanan khas tradisional Dayak. Bahkan, ada pula sejumlah perlombaan yang berlangsung selama Pekan Gawai Dayak, misalnya lomba memasak masakan tradisional, dan acara menarik lain.